Selasa, 03 November 2015

Dengan Pendidikan, Kembalikan Jati diri Bangsa Oleh : M. Iqbal Abdul Aziz[1]

Dengan Pendidikan, Kembalikan Jati diri Bangsa
Oleh : M. Iqbal Abdul Aziz[1]





Pajak yang seharusnya jadi harga mati bisa di negosiasikan. Aparat yang sudah digaji melayani public malah sering melayani pungutan liar. Tabungan nasabah yang semestinya dijaga malah di bobol dengan mudah. Namun, Nasabah yang kerap dirugikan tidak berani angkat bicara karena ternyata rekeningnya adalah bagian dari mekanisme pencucian uang. Penegak humum yang seharusnya menegakkan hukum malah di hukum. Pemerintah yang seharusnya melayani rakyatnya malah minta dilayani. Dan naasnya lagi, Guru yang yang seharusnya mendidik malah terdidik. Inilah fenomena Sirkus kehidupan.


Apa kabar Indonesia? Apa kabar pendidikan Indonesia? Masihkah terdengar kabar pendidikan kita? Pendidikan yang mendikotomikan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Pendidikan Indonesia yang semakin mahal, pendidikan kita yang mencetak manusia pintar namun rendah mora nya? Dehumanisasi Pendidikan, dan mungki ketika kita gali permasalahan pendidikan kita, tak akan ada habisnya. Dimulai dari permasalahan yang kerap muncul di dunia pendidikan khususnya Bangsa Indonesia.

Hilangnya Makna Pendidikan

Pendidikan yang sejak masa KH. Ahmad Dahlan sebagai salah satu pendiri pendidikan pesantren yang mengedepankan Intelektual, hingga munculnya sosok Ki Hajar Dewantara dengan konsep ‘humanisasi’nya atau memanusiakan manusia, sampai saat ini hanya sedikit yang dapat dirasakan oleh pelajar Bangsa Indonesia. Mereka hanya mampu merasakan belajar dikelas dengan bahan ajar seadanya.

Khasanah keilmuan para pengajar yang membuat para siswa tak tertunjang, sarana dan prasarana yang disiapkan guna memperlancar kegiatan belajar mengajar siswa. Sampai masih ada siswa SMP yang harus mendayung perahu[1] agar bisa sekolah dengan perjalanan yang sekian jauhnya dan ketika terjadi ombak laut cukup besar mereka tidk bisa berngkat ke sekolah.

Apa manfaat perjuangan Founding Father kita ketika Soekarno dan Bung Hatta memperjuangkan selama lebih dari 20 tahun hingga sekarang sudah berumur jagung belum terasa manfaatnya[3]. Itu semua tidak lainq karena Pendidikan Indonesia tak mempunyai landasan kuat Ideologi Pendidikan yang sudh di bangun oleh pendahulu kita. Itulah Pekerjaan Rumah kita sebagai pelajar bangsa untuk secermat mungkin menjaga warisan ideologi Pendidikan yang sudah ada sejak dulu. Ideologi pendidikan yang memanusiakan manusia.

Ketidakjelasan (Kebijakan) Pendidikan 

Lelah terasa ketika kita sebagai peserta didik melihat tngkah laku para Elite Politisi Pendidikan di Kursi Bergengsi di Negeri ini yang selalu bingung akan kebijakannya sendiri. Selalu banyak akal akalan dalam mengambil kebijakan. Itu tak selayaknya tertular pada Institusi pendidikan. Karena masa depan kita di tentukan oleh pendidikan. Jika bercermin dari elite Pendidikan diatas sana yang selalu mbalelo, tak akan pernah ada harapan pendidikan bangsa Indonesia maju sebelum semuanya berbenah.
Kebijakan pemerintah ibarat materi dalam fisika –akan mengalami Entropi[4] yang mengarah pada kehancuran. Itulah hukum alam yang terjadi. Tidak ada seorangun yang terbebas dari aturan Negara, karna kita hidup di negara hukum. Yang bisa diakukan adalah upaya negentropis untuk memperlambat kehancuran. Demikian pula dengan kebijakan pendidikan. Bila tidak solutif terhadap perubahan sosial yang teru terjadi, pendidikan hanya enjadi fenomena yang ditakuti. Oleh karena itu, pendidikan perlu kita kuatkan dengan tameng karakter.

Akal akalan pemerintah yang membuat semakin memperkeruh keadaan. Pajak yang seharusnya jadi harga mati bisa di negosiasikan. Aparat yang sudah digaji melayani public malah sering melayani pungutan liar. Tabungan nasabah yang semestinya dijaga malah di bobol dengan mudah. Namun, Nasabah yang kerap dirugikan tidak berani angkat bicara karena ternyata rekeningnya adalah bagian dari mekanisme pencucian uang. Penegak humum yang seharusnya menegakkan hukum malah di hukum. Pemerintah yang seharusnya melayani rakyatnya malah minta dilayani. Dan naasnya lagi, Guru yang yang seharusnya mendidik malah terdidik. Maka jadilah adigium “Jika anda diam, Maka anda Emas”

Demoraliasi Pendidikan
Hilangnya Moral (Karakter) pendidikan saat ini sudah merambah ke semua aspek. Meminjam istilah Mareta Puspita Aktivis SKI FIP UNY makna pendidikan yang menghidupkan sudah tak terasa. Diawali dari hilangnya karakter (mendidik) seorang guru berakibat lemahnya semangat belajar pelajar / siswanya. Guru yang di tuntut untuk memiliki kualifikasi kompetensi kritis meliputi: Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, dan Kompetensi Sosial tak ada ruhnya sama sekali. Yang di kejar adalah kompensasi lebih besar dari pada kompetensi. Pendidik yang seharusnya mendidik, malah terdidik. Itulah kenyataan demoralisasi pendidikan yang terjadi saat ini pada pendidikan kita.


PENDIDIKAN KARAKTER, SOLUSI PENDIDIKAN BANGSA
Beberapa tragedi meyedihkan telah terjadi didunia pendidikan, sangat kompleks dan sangat rumit. Perlulah kita mengambil ibroh dari kejadian praktik praktik pendidikan yang tak sejalan dengan makna pendidikan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita perbaiki pendidikan kita dengan membentuk karakter peserta didik sebagai jati diri bangsa Indonesia.

MEMBANGUN KARAKTER PENDIDIKAN INDONESIA
Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA. MENDIKBUD RI 2009 – 2014 berulangkali menggaungkan pendidikan karakter sebagai Grand Design Pendidikan Indonesia Saat ini. Dari mulai tingkat dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi sudah digaungkan Pendidikan Karakter. Bahkan, di salah satu perguruan tinggi ternama di Yogyakarta terdapat kurikulum Pendidikan Karakter, yang fokus membahas mengenai apa itu karakter. Dari mulai sikap berpakaian, adab terhadap dosen, plangisasi nilai – nilai karakter di lingkungan fakultas, sampai mat kuliah mengenai pendidikn karakter.
Dijelaskan pengertian didalam buku Pendidikan profetik “Revolusi manusia Abad 21”[5] bahwa karakter atau watak menurut Ki Hajar Dewantara (1997: 407 – 408) ialah panduan dar segala tabiat manusi yang bersifat tetap, sehingga menjadi tanda khusus untu membedakan orang yang satu dari orang yang lain. Prof. Dr. Imam barnadib (1978: 14) sejalan dengan Ki Hajar Dewantara dalam menafsirkan karakter atau watak ialah sifat yang nampak dan seolah – olah mewakili pribadinya.
Sedangkan dalam arti etis, watak harus mengenai nilai – nilai yang baik dan menunjukkan sifat – sifat yang selalu dapat di percaya, sehingga orang yang berwatak itu mempunyai pendirian yang teguh, baik, terpuji dan dapat dipercaya. Dengan demikian, watak berarti susunan batin atau kesatuan kepribadiandalam arti etis, dan jika hal ini dikaitkan dengan definisi kepribadian menurut pengertian pendidikan, maka kepribadian yang demikian inilah yang memenuhi syrat dalam arti pedagogis. Berwatak berarti memiliki prinsip dalam arti moral. Oleh sebab itu, watak yang tidak bermoral perlu dicegah kehadirannya dalam pergaulan hidup manusia. Hanya dengan cara ini perbuatan dapat di pertanggungjawabkan dalam arti moral.


Dapat ditegaskan bahwa pekdidikan karakter itu dilakukan dengan upaya yang sistematis oleh pihak yang memiliki otoritas seperti pemerintah dan lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan dengan maksud agar masyarakat termasuk peserta didik memiliki sikap dan prilaku moral yan baik seperti: kejujuran, ketuluan, memiliki kepedulian dan rasa hormat kepda orang lain, dan tanggung jawab. Inti dari pendidikan karakter adalah sikap prilaku nyata, bukan sekedar pengetahuan[6]


-------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Pengamat Pendidikan, koordinator Unit Usaha DHBS
[2] Kompas, Senin 2 mei 2001
[3] Memerdekakan Pendidikan 62 Tahun hal. 33 Sismono La Ode, Alumnus Sastra Indonesia UNY 
[4] Merupakan istilah fisika yang berarti ketidak beraturan pada suatu benda 
[5] Produksi Education Center BEM REMA UNY 2010 
[6] Pendidikan Profetik: Manusia Abad 21 Prof. Dr. Achmad Dardiri, M. Hum: “peran Universitas Negeri Yogyakarta dalam Pengembangan Pendidikan Karakter” Hal: 115 – 124