Dengan Pendidikan, Kembalikan Jati diri Bangsa
Oleh : M. Iqbal Abdul Aziz[1]

Pajak yang seharusnya jadi harga mati bisa di negosiasikan. Aparat yang sudah digaji melayani public malah sering melayani pungutan liar. Tabungan nasabah yang semestinya dijaga malah di bobol dengan mudah. Namun, Nasabah yang kerap dirugikan tidak berani angkat bicara karena ternyata rekeningnya adalah bagian dari mekanisme pencucian uang. Penegak humum yang seharusnya menegakkan hukum malah di hukum. Pemerintah yang seharusnya melayani rakyatnya malah minta dilayani. Dan naasnya lagi, Guru yang yang seharusnya mendidik malah terdidik. Inilah fenomena Sirkus kehidupan.
Apa kabar Indonesia? Apa kabar pendidikan Indonesia? Masihkah terdengar kabar pendidikan kita? Pendidikan yang mendikotomikan antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Pendidikan Indonesia yang semakin mahal, pendidikan kita yang mencetak manusia pintar namun rendah mora nya? Dehumanisasi Pendidikan, dan mungki ketika kita gali permasalahan pendidikan kita, tak akan ada habisnya. Dimulai dari permasalahan yang kerap muncul di dunia pendidikan khususnya Bangsa Indonesia.
Hilangnya Makna Pendidikan
Pendidikan yang sejak
masa KH. Ahmad Dahlan sebagai salah satu pendiri pendidikan pesantren yang
mengedepankan Intelektual, hingga munculnya sosok Ki Hajar Dewantara dengan
konsep ‘humanisasi’nya atau memanusiakan manusia, sampai saat ini hanya sedikit
yang dapat dirasakan oleh pelajar Bangsa Indonesia. Mereka hanya mampu
merasakan belajar dikelas dengan bahan ajar seadanya.
Khasanah keilmuan para pengajar yang membuat para
siswa tak tertunjang, sarana dan prasarana yang disiapkan guna memperlancar
kegiatan belajar mengajar siswa. Sampai masih ada siswa SMP yang harus
mendayung perahu[1]
agar bisa sekolah dengan perjalanan yang sekian jauhnya dan ketika terjadi
ombak laut cukup besar mereka tidk bisa berngkat ke sekolah.
Apa manfaat perjuangan Founding Father kita ketika Soekarno dan Bung Hatta memperjuangkan selama lebih dari 20 tahun hingga sekarang sudah berumur jagung belum terasa manfaatnya[3]. Itu semua tidak lainq karena Pendidikan Indonesia tak mempunyai landasan kuat Ideologi Pendidikan yang sudh di bangun oleh pendahulu kita. Itulah Pekerjaan Rumah kita sebagai pelajar bangsa untuk secermat mungkin menjaga warisan ideologi Pendidikan yang sudah ada sejak dulu. Ideologi pendidikan yang memanusiakan manusia.
Ketidakjelasan (Kebijakan) Pendidikan
Apa manfaat perjuangan Founding Father kita ketika Soekarno dan Bung Hatta memperjuangkan selama lebih dari 20 tahun hingga sekarang sudah berumur jagung belum terasa manfaatnya[3]. Itu semua tidak lainq karena Pendidikan Indonesia tak mempunyai landasan kuat Ideologi Pendidikan yang sudh di bangun oleh pendahulu kita. Itulah Pekerjaan Rumah kita sebagai pelajar bangsa untuk secermat mungkin menjaga warisan ideologi Pendidikan yang sudah ada sejak dulu. Ideologi pendidikan yang memanusiakan manusia.
Ketidakjelasan (Kebijakan) Pendidikan
Lelah
terasa ketika kita sebagai peserta didik melihat tngkah laku para Elite
Politisi Pendidikan di Kursi Bergengsi di Negeri ini yang selalu bingung akan
kebijakannya sendiri. Selalu banyak akal akalan dalam mengambil kebijakan. Itu
tak selayaknya tertular pada Institusi pendidikan. Karena masa depan kita di
tentukan oleh pendidikan. Jika bercermin dari elite Pendidikan diatas sana yang
selalu mbalelo, tak akan pernah ada
harapan pendidikan bangsa Indonesia maju sebelum semuanya berbenah.
Kebijakan pemerintah ibarat materi dalam fisika –akan
mengalami Entropi[4] yang mengarah pada kehancuran. Itulah hukum alam yang
terjadi. Tidak ada seorangun yang terbebas dari aturan Negara, karna kita hidup
di negara hukum. Yang bisa diakukan adalah upaya negentropis untuk memperlambat
kehancuran. Demikian pula dengan kebijakan pendidikan. Bila tidak solutif
terhadap perubahan sosial yang teru terjadi, pendidikan hanya enjadi fenomena
yang ditakuti. Oleh karena itu, pendidikan perlu kita kuatkan dengan tameng
karakter.
Akal akalan pemerintah yang membuat semakin
memperkeruh keadaan. Pajak yang seharusnya jadi harga mati bisa di
negosiasikan. Aparat yang sudah digaji melayani public malah sering melayani
pungutan liar. Tabungan nasabah yang semestinya dijaga malah di bobol dengan mudah.
Namun, Nasabah yang kerap dirugikan tidak berani angkat bicara karena ternyata
rekeningnya adalah bagian dari mekanisme pencucian uang. Penegak humum yang
seharusnya menegakkan hukum malah di hukum. Pemerintah yang seharusnya melayani
rakyatnya malah minta dilayani. Dan naasnya lagi, Guru yang yang seharusnya
mendidik malah terdidik. Maka jadilah adigium “Jika anda diam, Maka anda Emas”
Demoraliasi Pendidikan
Demoraliasi Pendidikan
Hilangnya Moral (Karakter) pendidikan saat ini sudah
merambah ke semua aspek. Meminjam istilah Mareta Puspita Aktivis SKI FIP UNY
makna pendidikan yang menghidupkan sudah tak terasa. Diawali dari hilangnya
karakter (mendidik) seorang guru berakibat lemahnya semangat belajar pelajar /
siswanya. Guru yang di tuntut untuk memiliki kualifikasi kompetensi kritis
meliputi: Kompetensi Pedagogik, Kompetensi Profesional, dan Kompetensi Sosial
tak ada ruhnya sama sekali. Yang di kejar adalah kompensasi lebih besar dari
pada kompetensi. Pendidik yang seharusnya mendidik, malah terdidik. Itulah
kenyataan demoralisasi pendidikan yang terjadi saat ini pada pendidikan kita.
PENDIDIKAN KARAKTER, SOLUSI PENDIDIKAN BANGSABeberapa tragedi meyedihkan telah terjadi didunia pendidikan, sangat kompleks dan sangat rumit. Perlulah kita mengambil ibroh dari kejadian praktik praktik pendidikan yang tak sejalan dengan makna pendidikan. Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita perbaiki pendidikan kita dengan membentuk karakter peserta didik sebagai jati diri bangsa Indonesia.
MEMBANGUN KARAKTER PENDIDIKAN INDONESIA
Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA. MENDIKBUD RI 2009 –
2014 berulangkali menggaungkan pendidikan karakter sebagai Grand Design
Pendidikan Indonesia Saat ini. Dari mulai tingkat dasar (SD) sampai Perguruan
Tinggi sudah digaungkan Pendidikan Karakter. Bahkan, di salah satu perguruan
tinggi ternama di Yogyakarta terdapat kurikulum Pendidikan Karakter, yang fokus
membahas mengenai apa itu karakter. Dari mulai sikap berpakaian, adab terhadap
dosen, plangisasi nilai – nilai karakter di lingkungan fakultas, sampai mat
kuliah mengenai pendidikn karakter.
Dijelaskan pengertian didalam buku Pendidikan profetik
“Revolusi manusia Abad 21”[5] bahwa karakter atau watak menurut Ki Hajar
Dewantara (1997: 407 – 408) ialah panduan dar segala tabiat manusi yang
bersifat tetap, sehingga menjadi tanda khusus untu membedakan orang yang satu
dari orang yang lain. Prof. Dr. Imam barnadib (1978: 14) sejalan dengan Ki
Hajar Dewantara dalam menafsirkan karakter atau watak ialah sifat yang nampak
dan seolah – olah mewakili pribadinya.
Sedangkan dalam arti etis, watak harus mengenai nilai
– nilai yang baik dan menunjukkan sifat – sifat yang selalu dapat di percaya,
sehingga orang yang berwatak itu mempunyai pendirian yang teguh, baik, terpuji
dan dapat dipercaya. Dengan demikian, watak berarti susunan batin atau kesatuan
kepribadiandalam arti etis, dan jika hal ini dikaitkan dengan definisi
kepribadian menurut pengertian pendidikan, maka kepribadian yang demikian
inilah yang memenuhi syrat dalam arti pedagogis. Berwatak berarti memiliki
prinsip dalam arti moral. Oleh sebab itu, watak yang tidak bermoral perlu
dicegah kehadirannya dalam pergaulan hidup manusia. Hanya dengan cara ini
perbuatan dapat di pertanggungjawabkan dalam arti moral.
Dapat ditegaskan bahwa pekdidikan karakter itu
dilakukan dengan upaya yang sistematis oleh pihak yang memiliki otoritas
seperti pemerintah dan lembaga pendidikan. Hal ini dilakukan dengan maksud agar
masyarakat termasuk peserta didik memiliki sikap dan prilaku moral yan baik
seperti: kejujuran, ketuluan, memiliki kepedulian dan rasa hormat kepda orang
lain, dan tanggung jawab. Inti dari pendidikan karakter adalah sikap prilaku
nyata, bukan sekedar pengetahuan[6]
-------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Pengamat Pendidikan, koordinator Unit Usaha DHBS
[1] Pengamat Pendidikan, koordinator Unit Usaha DHBS
[2]
Kompas, Senin 2 mei 2001
[3]
Memerdekakan Pendidikan 62 Tahun hal. 33 Sismono La Ode, Alumnus Sastra
Indonesia UNY
[4]
Merupakan istilah fisika yang berarti ketidak beraturan pada suatu benda
[5]
Produksi Education Center BEM REMA UNY 2010
[6]
Pendidikan Profetik: Manusia Abad 21 Prof. Dr. Achmad Dardiri, M. Hum: “peran
Universitas Negeri Yogyakarta dalam Pengembangan Pendidikan Karakter” Hal: 115
– 124








































































































































